Hindari 5 Kebiasaan Buruk Pengusaha dalam Mengelola Keuangan

Masalah keuangan memang merupakan salah satu hal yang menakutkan bagi para pengusaha di seluruh dunia. Terkadang, walaupun bisnis mengalami peningkatan penjualan dan omset, kondisi keuangan bisnis ternyata tetap bisa bermasalah. Anda sebagai seorang pengusaha yang paling bertanggung jawab atas hal ini, karena mungkin tanpa disadari Anda masih melakukan berbagai kebiasaan buruk dalam mengelola keuangan.

Namun, jika Anda mengalami masalah finansial yang buruk, Anda jangan mengambil keputusan untuk berhenti atau menyerah di tengah jalan. Anda tentu masih memiliki kesempatan untuk bisa memutar keadaan dan memulihkan kembali bisnis Anda. Asalkan Anda menyadari kebiasaan yang salah sebelumnya dalam mengelola keuangan dan segera memperbaikinya.

Berikut ini 5 kebiasaan buruk pengusaha dalam mengelola keuangan yang harus Anda hindari :

1. Tidak Menabung

Masyarakat Indonesia dikenal memiliki sifat konsumtif, hingga sudah tak asing lagi bahwa jika menjual apapun di Indonesia ‘pasti’ laku. Hal inilah yang menjadi penyebab banyak pengusaha atau karyawan yang penghasilannya cukup namun tetap saja terasa kurang, sudah bertahun-tahun namun belum ada aset yang dibangun sejak dini.

Karena masyarakat Indonesia terbiasa menghabiskan uang mereka untuk kebutuhan sehari-hari atau ‘investasi perut kebawah’. Jarang sekali yang mempersiapkan dan menyisihkan uang untuk investasi leher ke atas, contoh investasi untuk ilmu, lalu menabung. Kita cenderung punya sifat boros yang masih menjadi permasalahan khususnya dalam keberlangsungan keuangan.

2. Mencampuradukkan urusan bisnis dan pribadi

Poin ini juga merupakan yang sering terjadi dalam bisnis. Seringkali sebagai seorang owner dari bisnis kita sendiri, kita mencampuradukkan urusan bisnis dan pribadi, contohnya dalam hal keuangan. Padahal, hal ini bisa menjadi pemantik dari hancurnya bisnis Anda.

Dalam dunia bisnis, harus tetap profesional. Anda harus bisa membedakan yang mana urusan bisnis dan yang mana pribadi. Dalam banyak kasus, banyak ditemukan pengusaha-pengusaha yang seenaknya menggunakan uang operasional atau keuntungan perusahaan untuk keperluan pribadi. Yang akhirnya, membuat keuangan perusahaannya tidak stabil juga tidak tersistem. Ini adalah kebiasaan buruk yang seharusnya dihindari.

3. Tidak memperhatikan uang kecil

Menganggap hasil penjualan yang sedikit terkadang adalah hal yang sering dilakukan dan membuat Anda menjadi kurang bersyukur. Seharusnya kita mengapresiasi seberapa pun pendapatan dan penjualan bisnis Anda setiap harinya. Meskipun hasilnya Anda anggap “uang kecil” yang tidak seberapa nominalnya, namun uang tersebut tetap Anda butuhkan dan lama-lama akan menjadi bukit alias perlahan usaha Anda pasti akan membuahkan hasil yang besar.

Selain pendapatan, “uang kecil” juga berhubungan dengan pengeluaran. Jangan pernah menganggap remeh sedikitnya uang yang Anda keluarkan. Jika Anda terus berkompromi dan menyepelekan pengeluaran “uang kecil” untuk hal-hal yang tidak penting, tanpa Anda sadari jumlah pengeluaran Anda menjadi membengkak. Maka dari itu, Anda perlu memperhatikan dan melakukan perhitungan sebaik mungkin untuk setiap pengeluaran, sekalipun jumlahnya sedikit atau “receh”.

4. Malas Mencatat Pengeluaran

Apakah Anda pernah atau bahkan sering merasa setelah mengambil uang di ATM, tapi tiba-tiba uang didompet habis? Itulah akibatnya jika Anda malas mencatat setiap pengeluaran. Mencatat setiap pengeluaran dan transaksi keuangan sangatlah dibutuhkan agar keuangan Anda terkontrol. Pengeluaran bernominal besar ataupun kecil harus dicatat secara jelas. Uang kecil yang Anda keluarkan kadang justru sering dilakukan tanpa disadari dan menjadi sumber yang membuat keuangan Anda terkuras.

Buanglah segera rasa malas Anda dalam mencatat keuangan, mulai sekarang cobalah mencatat semua pengeluaran kamu secara rinci tanpa ada yang terlewatkan. Agar keuangan bisnis Anda bisa lebih terkontrol.

5. Tidak Membuat Proyeksi Laba-Rugi

Sebagai pengusaha, Anda perlu membuat proyeksi laba-rugi bisnis Anda untuk membantu Anda mengatur finansial dalam jangka panjang. Proyeksi disini adalah membuat perkiraan beban operasional dan hasil penjualan bisnis Anda dalam beberapa waktu ke depan. Minimal Anda membuat proyeksi untuk setiap 12 bulan ke depan. Cara sederhananya adalah dengan membandingkan potensi omset dengan harga pokok penjualan lalu ditambah biaya tetap operasi.

Di antara 5 hal tersebut ada yang masih Anda lakukan ? Mengatur keuangan dengan bijak tidak akan bisa dilakukan tanpa ada tekad kuat untuk mengendalikan diri. Kebiasaan-kebiasaan buruk di atas merupakan hal yang harus Anda hindari dan kendalikan agar keuangan bisnis Anda dapat diatur lebih baik.

Tidak perlu khawatir Anda pasti bisa perbaiki mulai dari sekarang dan hilangkan kebiasaan buruk diatas. Mulailah dengan kebiasaan baik. Maka kelak kita sendiri yang akan menikmati hasilnya. Selamat mencoba sahabat KPM!

www.kampuspengusahamuslim.com