Ketahui Pengertian Riba dan Jenis-jenisnya Sesuai Ajaran Islam

Saat melakukan transaksi keuangan di bank konvensional atau proses jual beli lainnya, sering kali kita mendengar istilah Riba. Namun, tak banyak yang mengetahui secara pasti apa pengertian riba.

Secara harfiah, riba atau dalam bahasa Arab disebut ‘Azziyadah’ memiliki arti sederhana, yakni tambahan.

Namun, dalam pengertian yang lebih luas, riba dapat diartikan sebagai tambahan nilai yang berasal dari usaha ‘haram’ yang merugikan salah satu pihak di dalam suatu transaksi.

Istilah riba sendiri diambil dari ajaran jual beli Islam, sehingga pengertian ‘haram’ di sini didasarkan pada ketidaksesuaian proses transaksi jual beli atau bisnis menurut syariat Islam.

Selain itu, pengertian riba juga dapat dilihat dari prosesnya, di mana riba diartikan sebagai aktivitas pengambilan keuntungan (bisa bersifat tumbuh dan membesar) dari harta pokok atau modal secara batil.

Itu sebabnya, bagi warga muslim sangat disarankan untuk menghindari riba karena tidak sesuai dengan syariat islam. Untuk mengetahui lebih banyak pengertian riba, simak ulasan lengkap di bawah ini.

Pengertian Riba menurut Para Ahli

Setelah membahas pengertian riba dari segala sudut pandang, kini kita akan melihat pengertian riba dari beberapa ahli, khususnya ahli fiqih yang memiliki pengetahuan lebih terhadap syariat Islam, seperti:

-Pengertian Riba menurut Syeikh Muhammad Abduh

Menurut Syeikh Muhammad Abduh pengertian riba adalah penambahan-penambahan yang disyaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada orang yang meminjam hartanya (bisa berupa uang dan lain-lain).

Hal ini bisa terjadi, karena pengunduran janji pembayaran oleh peminjam dari tenggat waktu yang telah ditentukan bersama.

-Pengertian Riba menurut Rahman Al-Jaziri

Rahman Al-Jaziri mengartikan riba layaknya akad yang terjadi dengan pertukaran tertentu, tidak diketahui sama atau tidak menurut syara’, atau terlambat salah satunya.

-Pengertian Riba menurut Al-Mali

Tak jauh berbeda dengan dua ahli sebelumnya, Al-Mali mengartikan riba sebagai akad yang terjadi atas pertukaran barang atau komoditas tertentu yang tidak diketahui perimbangannya menurut syara’.

Hal tersebut bisa terjadi pada saat akad, atau saat mengakhiri proses pertukaran barang oleh kedua belah pihak ataupun salah satunya.

-Pengerian Riba menurut Ilmu Ekonomi

Dalam ilmu ekonomi sendiri, istilah riba berarti merujuk kepada kelebihan dari jumlah uang pokok yang dipinjamkan oleh si pemberi pinjaman dari orang yang meminjam uang tersebut.

Nah, dari pengertian riba di atas kita dapat mengambil kesimpulan, jika riba adalah suatu kegiatan pengambilan nilai tambah yang memberatkan dari akad perekonomian.

Akad perekonomian tersebut, misalnya seperti jual beli atau utang piutang, dari penjual terhadap pembeli atau dari pemilik dana kepada peminjam dana, baik diketahui bahkan tidak diketahui oleh pihak kedua.

Jenis-Jenis Riba menurut Syariat Islam

Bukan hanya pengertian riba saja yang bermacam-macam, perlu diketahui jika riba sendiri dikelompokkan ke dalam dua jenis, yakni jenis riba hitang-piutang dan riba jual-beli.

Kedua jenis riba tersebut pun terdiri atas beberapa macam, misalnya seperti berikut ini:

1. Jenis Riba Hutang-Piutang

Seperti namanya, jenis riba hutang-piutang dipraktikkan pada saat proses hutang-piutang terjadi antara dua belah pihak. Pengertian riba ini adalah adanya tindakan mengambil keuntungan dari hutang tersebut.

Selain itu, jenis riba hutang-piutang juga terbagi atas dua macam, yakni:

  • Riba Qardh, yang berarti suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan oleh pemberi hutang terhadap orang yang berhutang.
  • Riba Jahiliyah, yang artinya sebuah proses hutang-piutang yang dibayar lebih dari pokoknya, sebab orang yang berhutang tidak mampu bayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.

2. Jenis Riba Jual-Beli

Jenis riba yang satu ini adalah riba yang sering kita temui sehari-hari. Riba jual-beli kerap terjadi pada saat kita membeli barang dengan cara mencicil, baik itu rumah, kendaraan, barang elektronik, dan lain-lain.

Sama seperti jenis riba hutang-piutang, riba jual-beli juga terbagi atas dua macam, yaitu:

  • Riba Fadhl, yakni pertukaran antara barang-barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, dan barang yang dipertukarkan termasuk dalam jenis barang riba.
  • Riba Nasi’ah, yakni penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang riba dengan jenis barang yang tergolong riba lainnya. Jenis riba yang satu ini bisa terjadi karena adanya perbedaan, perubahan, atau penambahan antara barang yang diserahkan sekarang dan barang yang diserahkan setelahnya.

Itu tadi jenis-jenis dan pengertian riba yang penting untuk diketahui. Agar lebih paham lagi mengenai pengertian riba, simak pula contoh-contoh riba di bawah ini.

Contoh Riba Sesuai Ajaran Islam

Sebenarnya, ada bermacam-macam contoh riba yang sering kita temui sehari-hari, misalnya seperti riba bunga bank konvensional dan riba pinjaman dengan syarat.

Mengapa kedua hal tersebut termasuk ke dalam contoh dan pengertian riba? Untuk bunga bank, saat kita meminjam sejumlah uang atau mengajukan cicilan, maka akan dikenakan bunga atas transaksi tersebut.

Bunga inilah yang termasuk ke dalam jenis riba, sehingga menurut ajaran Islam praktik jual-beli atau pinjam-meminjam seperti ini haram hukumnya.

Tidak hanya bunga bank konvensional, beberapa lembaga lain yang menawarkan jasa pembiayaan keuangan juga kerap menggunakan metode yang satu ini dalam proses transaksinya.

Misalnya ketika kita mengajukan kredit kendaraan bermotor, mobil, ataupun rumah. Proses cicilan barang tersebut sering kali menggunakan  bunga pada saat pembayarannya.

Selain itu, ada pula praktik riba yang tidak disadari oleh banyak orang, yakni pengertian riba yang tejadi pada saat transaksi pinjam-meminjam dengan syarat.

Maksudnya seperti ini, misalnya seorang kerabat meminjam sejumlah uang kepada kamu, kemudian kamu mengiyakan permohonannya namun dengan sejumlah syarat yang harus dipenuhi orang tersebut.

Contohnya, kamu mau memberi pinjaman uang kepada orang tersebut asal ia mau membersihkan rumahmu selama seminggu. Meskipun tak berbentuk uang, namun praktik seperti ini termasuk riba.

Banyak sekali dari kita yang tidak menyadari hal ini, sehingga praktik ini kerap kali dilakukan orang-orang.

Dasar Hukum Riba menurut Islam

Tentu saja ada alasan dibalik pelarangan riba dalam praktik jual-beli dan pinjam-meminjam barang, di antaranya tertulis pada Q.S. Al-Baqarah ayat 275-278, Q.S. Ali ‘Imran ayat 130, dan Q.S. Ar-Ruum ayat 39.

Ketiga surat tersebut secara jelas menyebautkan jika praktik riba tidak sesuai dengan ajaran Allah SWT dan melanggar syariat Islam, terutama dalam melakukan jual-beli dan pinjam-meminjam barang.

Selain itu, pada surat-surat tersebut juga dijabarkan secara jelas balasan yang akan didapatkan manusia di akhirat apabila melenggangkan praktik riba.

Misalnya pada Q.S. Al-Baqarah ayat 275, disebutkan;

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit jiwa (gila). Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”

Nah, setelah membaca penjelasan di atas, kamu sudah pahamkan apa itu pengertian riba, jenis-jenis, contoh, hingga dasar hukumnya? Semoga artikel di atas bermanfaat untuk kita semua ya!

(Photos: Pixabay)

Bermanfaat? yuk share agar yang lain tau